Senin, 28 Mei 2012


KISAH ABDULLAH BIN AL-MUBARAK



Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M. Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema "Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini."


PERTAUBATAN ABDULLAH BlN MUBARAK
Abdullah bin Mubarak sedemikian tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat ia terus-menerus dalam kegundahan. Suatu malam di musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu. Ketika adzan Shubuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shalat 'Isya. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu. "Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!". Katanya kepada dirinya sendiri. "Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu. tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi sangat gelisah."


Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.
Setelah bertaubat itu Abdullah bin Mubarak meninggalkan kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad. Di kota inilah ia bergaul dengan tokoh-tokoh sufi. Dari Baghdad ia pergi ke Mekkah kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka kemudian mengorganisir kelas-kelas dan kelompok-kelompok studi. Pada masa itu sebagian penduduk beraliran Sunnah sedang sebagiannya lagi beraliran fiqh. Itulah sebabnya mengapa Abdullah disebut sebagai toko yang dapat diterima oleh kedua aliran itu. Ia mempunyai hubungan baik dengan kedua aliran tersebut dan masing-masing aliran itu mengakuinya sebagai anggota sendiri. Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan Fiqh. Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Mekkah.


Di kota ini ia mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-selang. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya itu dibagikannya kepada para pengikutnya. la biasa membagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.


Abdullah sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia mampir di sebuah warung kemudian pergi shalat. Sementara itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum. Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanan-nya dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini Abdullah berkata: "Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada pemiliknya". Pada peristiwa lain, Abdullah melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.
Suatu hari Abdullah melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahwa Abdullah sedang melewati tempat itu. "Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!" "Abdullah berhentilah!", orang buta itu berseru. Abdullah lalu berhenti. " Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini!", ia memohon kepada Abdullah. Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali.
READ MORE -


ABBAD BIN BISYIR
SELALU DISERTAI CAHAYA ALLAH


Ketika Mush'ah bin Umeir tiba di Madinah-sebagai utusan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah bai'at kepada Nabi dan membimbing mereka melakukan shalat, maka'Abbad bin Bisyir radhiallahu anhu adalah seorang budiman yang telah dibukakan Allah hatinya untuk menerima kebaikan. la datang menghadiri majlis Mush'ab dan mendengarkan da'wahnya, lain diulurkan tangannya mengangkat bai'at memeluk Islam. Dan semenjak saat itu mulailah ia menempati kedudukan utama di antara orang-olang Anshar yang diridlai oleh Allah serta mereka ridla kepada Allah ....
Kemudian Nabi pindah ke Madinah, setelah lebih dulu orang-orang Mu'min dari.Eulekah tiba di sana. Dan mulailah terjadi peperangan-peperangan dalam mempertahankan diri dari serangan-serangan kafir Quraisy dan sekutunya yang tak henti-hentinya memburu Nabi dan ummat Islam. Kekuatan pembawa cahaya dan kebaikan bertarung dengan kekuatan gelap dan kejahatan. Dan pada setiap peperangan itu 'Abbad bin Bisyir berada di barisan terdepan, berjihad di jalan Allah dengan gagah berani dan mati-matian dengan cara yang amat mengagumkan ....
Dan mungkin peristiwa yang kita paparkan di bawah ini dapat mengungkapkan sekelumit dari kepahlawanan tokoh Mu'min ini....


Rasulullah shallallahu alaihi wasalam  dan Kaum Muslimin selesai menghadapi perang Dzatur Riqa', mereka sampai di suatu tempat dan bermalam di sana, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam :memilih beberapa orang shahabatnya untuk berkawal secara bergiliran. Di antara mereka terpiiih 'Ammar bin Yasir dan 'Abbad bin Bisyir yang berada pada satu kelompok.
Karena dilihat oleh 'Abbad bahwa kawannya 'Ammar sedang lelah, di usul kannyalah agar 'Ammar tidur lebih dulu dan ia akan berkawal. Dan nanti bila ia telah mendapatban istirahat yang cukup, maka giliran 'Ammar pula berkawal menggantikannya.
'Abbad melihat bahwa lingkungan sehelilingnya aman. Maka timbullah fikirannya, kenapa ia tidak mengisi waktunya dengan melakukan shalat, hingga pahala yang akan diperoleh akan jadi berlipat ... ? Demikianlah ia bangkit melakukannya ....
Tiba-tiba sementara ia berdiri sedang membaca sebuah surat Al-Quran setelah al-Fatihah sebuah anak panah menancap di pangkal lengannya. Maka dicabutnya anak panah itu dan diteruskannya shalatnya.....
Tidak lama antaranya mendesing pula anak panah kedua yang mengenai anggota badannya.
Tetapi ia tak hendak menghentikan shalatnya hanya dicabutnya anak panah itu seperti yang pertama tadi, dan dilanjutkannya bacaan surat.
Kemudian dalam gelap malam itu musuh memanahnya lalu untuk ketiga kalinya. 'Abbad menarik anak panah itu dan mengakhiri bacaan surat. Setelah itu ia ruku' dan sujud ...,sementara tenaganya telah lemah disebabkan sakit dan lelah.
Lalu antara sujud itu diulurkannya tangannya kepada kawanya yang sedang tidur di sampingnya dan ditarik-tariknya ia sampai terbangun.
Dalam pada itu ia bangkit dari sujudnya dan membaca tasyahud, lalu menyelesaikan shalatnya.
'Ammar terbangun mendengar suara kawannya yang tak putus-putus menahan sakit: "Gantikan daku mengawal ..., karena aku telah kena... !"'Ammar menghambur dari tidurnya hingga menimbulkan kegaduhan dan takutnya musuh yang menyelinap. Mereka melarikan diri, sedang 'Ammar berpaling kepada temannya seraya katanya: "Subhanallah ... ! Kenapa saya tidak dibangunkan ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi...," Ujar 'Abbad: -
"Ketika daku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat al-Quran yang amat mengharukan hatiku, hingga aku tak ingin untuk memutuskannya ... ! Dan demi Allah, aku tidaklah akan menyia-nyiakan pos penjagaan yang ditugaskan Rasul kepada kita menjaganya, sungguh, aku lebih suka mati daripada memutuskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu ... !"
'Abbad amat cinta sebali kepada Allah, kepada Rasul dan kepada Agamanya .... Kecintaan itu memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Dan semenjak Nabi shallallahu alaihi wasalam  berpidato dan mengarahkan pembicaraannya kepada Kaum Ansbar, ia termasuk salah seorang di antara mereka. Sabdanya:
"Hai golongan Anshar... !
Kalian adalah inti, sedang golongan lain bagai kulit ari!
Maka tak mungkin aku dicederai oleh pihak kalian ..,!''



Semenjak itu, yakni semenjak 'Abbad mendengar ucapan ini dari Rasulnya, dari guru dan pembimbingnya kepada Allah, dan ia rela menyerahkan harta benda nyawa dan hidupnya di jaIan Allah dan di JaIan Rasul-Nya ..., maka kita temui dia di arena pengurbanan dan di medan iaga muncul sebagai orang pertama, sebaliknya di waktu pembagian keuntungan dan harta rampasan, sukar untuk ditemubannya
Di samping itu ia adalah seorang ahli ibadah yang tekun ..., seorang pahlawan yang gigih dalam berjuang ...,seorang dermawan yang rela berqurban ...,dan seorang mu'min sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk keimanannya ini ... !
Keutamaannya ini telah dikenai luas di antara shahabat-shahabat Rasul. Dan Aisyah radhiallahu anha  Ummul Mu'minin pernah mengatakan tentang dirinya:  Ada tiga orang Anshar yang keutamaannya tak dapat diatasi oleh seorang pun juga yaitu:
Sa'ad bin Mu'adz, Useid bin Hudlair dan 'Abbad bin Bisyir... !"

Orang-orang Islam angkatan pertama mengetahui bahwa 'Abbad adalah seorang tokoh yang beroleh karunia berupa cahaya dari Allah .... Penglihatannya yang jelas dan beroleh penerangan, dapat mengetahui tempat-tempat yang baik dan meyakinkan tanpa mencarinya dengan susah-payah. Bahkan kepercayaan shahabat-shahabatnya mengenai cahaya ini sampai ke suatu tingkat yang lebih tinggi, bahwa ia merupakan benda yang dapat terlihat. Mereka sama sekata bahwa bila 'Abbad berjalan di waktu malam, terbitlah daripadanya berkas-berkas cahaya dan sinar yang menerangi baginya jalan yang akan ditempuh ....
Dalam peperangan menghadapi orang-orang murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasalam maka 'Abbad memikul tanggung jawab dengan keberanian yang tak ada taranya ... i Apalagi dalam pertempuran Yamamah di mana Kaum Muslimin menghadapi balatentara yang paling kejam dan paling berpengalaman dibawah pimpinan Musailamatul Kaddzab, 'Abbad melihat bahaya besar yang mengancam Islam. Maka jiwa pengurbanan dan teras kepahlawanannya mengambil bentuk sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh keimanannya, dan meningkat ke taraf yang sejajar dengan kesadarannya akan bahaya tersebut, hingga menjadikannya sebagai prajurit yang berani mati, yang tak menginginkan kecuali mati syahid di jalan Ilahi ....
Sehari sebelum perang Yamamah itu dimulai,'Abbad mengalami suatu mimpi yang tak lama antaranya diketahui Ta'birnya secara gamblang dan terjadi di arena pertempuran sengit yang diterjuni oleh Kaum Muslimin.
Dan marilah kita panggil seorang shahabat mulia Abu Sa'id al-Khudri radhiallahu anhu untuk menceritakan mimpi yang dilihat oleh 'Abbad tersebut begitu pun Ta'birnya, serta peranannya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahidnya....
Demikian cerita Abu Sa'id: " 'Abbad bin Bisyir mengatakan kepadaku: -- "Hai Abu

Sa'id! Saya bermimpi semalam melihat langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi ... !
Saya yakin bahwa ta'birnya insya Allah saya akan menemui syahidnya ... !" "Demi Allah!" ujarku, "itu adalah mimpi yang baik ... !"

"Dan di waktu perang Yamamah itu saya lihat ia berseru kepada orang-orang Anshar: "Pecahkan sarung-sarung pedangmu dan tunjukkan kelebihan kalian .. !"
Maka segeralah menyerbu mengiringkannya sejumlah empat ratus orang dari golongan Anshar hingga sampailah mereka ke pintu gerbang taman bunga, lalu bertempur dengan gagah berani.
Ketika itu 'Abbad -- semoga Allah memberinya rahmat menemui syahidnya. Wajahnya saya lihat penuh dengan bekas sambaran pedang, dan saya mengenalnya hanyalah dengan melihat tanda yang terdapat pada tubuhnya ... !"
Demikianlah 'Abbad meningkat naik ke taraf yang sesuai untuk memenuhi kewajibannya sebagaiseorang Mu'min dari golongan Anshar, yang telah mengangkat bai'at kepada Rasul untuk membaktikan hidupnya bagi Allah dan menemui syahid di jalan-Nya ...
Dan tatkala pada permulaannya dilihatnya neraca pertempuran sengit itu lebih berat untuk kemenangan musuh, teringatlah olehnya ucapan Rasulullah terhadap Kaumnya golongan Anshar:
-- "Kalian adalah inti ... ! Maka tak mungkin saya dicederai oleh pihak kalian!"
Ucapan itu memenuhi rongga dada dan hatinya, hingga seolah-olah sekarang ini Rasulullah masih berdiri, mengulang-ulang kata-katanya itu ... 'Abbad merasa bahwa seluruh tanggung jawab peperangan itu terpikul hanya di atas bahu golongan Anshar semata ...atau di atas bahu mereka sebelum golongan lainnya ... ! Maka ketika itu naiklah ia ke atas sebuah bukit lalu berseru: -- "Hai golongan Anshar ... ! Pecahkan sarung-sarung pedangmu, dan tunjukkan keistimewaanmu dari golongan lain... !"


Dan ketika seruannya dipenuhi oleh empat ratus orang pejuang, 'Abbad bersama Abu Dajanah dan Barra' bin Malik mengerahkan rnereka ke taman maut, suatu taman yang digunakan oleh Musailamah sebagai benteng pertahanan…..dan pahlawan besar itu pun berjuanglah sebagai layaknya seorang laki-laki, sebagai seorang Mu'min ..., dan sebagai seorang warga anshar ....
Dan pada hari yang mulia itu, pergilah 'Abbad menemui syahidnya .,. ! Tidak salah mimpi yang dilihat dalam tidurnya semalam ,,. ? Bukankah ia melihat langit terbuka, kemudian setelah ia masuk ke celahnya yang terbuka itu, tiba-tiba langit
bertaut dan tertutup kembali... ! Dan mimpi itu dita'wilkannya bahwa pada pertempuran yang akan terjadi ruhnya akan naik ke haribaan Tuhan dan penciptanya
Sungguh, benarlah mimpi itu dan benarlah pula ta'birnya ... ! Pintu-pintu langit telah terbuka untuk menyambut ruh 'Abbad bin Bisyir dengan gembira, yakni searang tokoh yang oleh Allah diberi cahaya....


READ MORE -

Selasa, 22 Mei 2012


Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran


Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah keatas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya, shahabatnya dan mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
Phenomena yang terjadi baru-baru ini yaitu kemunculan jejak UFO berupa circle crop di Sleman Yogyakarta menggegerkan rakyat Indonesia terutama warga sekitar karena ini yang pertama terjadi di negara kita.
Sebagian orang langsung percaya bahwa itu memang jejak UFO dan memang makhluk luar angkasa benar-benar ada, sedangkan sebagian orang terburu-buru mengingkarinya dan mengatakan bahwa makhluk luar angkasa itu tidak ada.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang muslim yang diwajibkan percaya kepada yang ghaib yang tidak bisa kita lihat menyikapi phenomena seperti ini?
Bagaimana phenomena makhluk luar angkasa jika ditinjau dari Al-Qur’an?
Harus diketahui bahwa Yang menciptakan manusia dari tidak ada dan membentuknya dan meniupkan padanya dari ruh-Nya, dan mengokohkan ciptaan alam semesta ini termasuk keajaiban yang ada didalamnya, adalah juga Maha Kuasa untuk menciptakan luar angkasa dan makhluknya, Al-Qur’an telah menunjukkan adanya makhluk-makhluk yang tidak diketahui oleh manusia dimasa kenabian, demikian juga Al-Qur’an menunjukkan peran dari penemuan ilmiyah, dan bahwa setiap berita akan ada waktu kemunculannya, Allah Azza wa Jalla berfirman:
(وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ) (النحل:8)
Artinya: (dan dia telah menciptakan kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.) [QS An-Nahl: 8].
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa ada beberapa makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’aala dari jenis hewan yang kita tidak mengetahuinya, ini karena Allah Ta’aala menyambungkan makhluk tersebut dengan kuda, bagal dan keledai yang merupakan jenis hewan.
Dan disebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa ayat lainnya yang sepertinya mengisyaratkan adanya binatang di langit dan bumi, diantaranya firman Allah Ta’alaa:
(وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاء قَدِيرٌ) (الشورى:29)
Artinya: (di antara tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya) [QS Asy-Syuura: 29].
Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz daabbah (makhluk melata)menunjukkan bahwa itu makhluk-makhluk selain malaikat karena Allah Azza wa Jalla membedakan antara makhluk yang melata dengan malaikat dalam menyebutkannya dalam firman-Nya:
(وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ) (النحل:49)
Artinya: (dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri) [QS An-Nahl: 49).
Allah Ta’alaa menyebutkan dalam ayat diatas makhluk-makhluk melata di langit dan makhluk melata di bumi kemudian baru menyebutkan para malaikat.
Dengan ayat-ayat seperti ini sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak ada salahnya ini menjadi isyarat atas wujudnya alam-alam lain, akan tetapi sepatutnya kita tidak memastikan hal ini, karena ayat-ayat seperti ini bisa mengandung kemungkinan lebih dari satu pentakwilan.(Fatwa dari Syeikh Abdullah Al-Faqih hadidzohullah Ta’alaa)
Adapun pendapat bahwa makhluk-makhluk ini yang menciptakan manusia dengan bentuk yang menyerupainya dengan perantara DNA dan bahwa dia merupakan kekuatan ajaib yang mengakibatkan wujudnya manusia, maka ini secara hakikatnya merupakan pendapat yang batil yang menafikan akidahnya.
Kesimpulan:
Meskipun Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam beberapa ayatnya tentang kemungkinan keberadaan makhluk di luar angkasa, namun kita tidak boleh memastikan bahwa phenomena yang terjadi di bumi merupakan jejak keberadaan mereka, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat secara langsung wujud mereka seperti yang sering dilukiskan dalam film-film, demikian juga kita tidak boleh menafikan secara langsung keberadaan mereka karena Al-Qur’an telah memberi isyarat yang memungkinkan keberadaan mereka.
Tapi kita tidak boleh terlalu menyibukkan diri mendalami tentang masalah ini karena bukan termasuk perkara ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kita untuk mengharap pahala dan ridlo-Nya di dunia dan akhirat.
Wallau A’lam bishowab.
(ar/voa-islam.com)
READ MORE -

Kagum pada Ajaran Islam Soal Moral, Profesor Yahudi Bersyahadat


Sebut saja namanya Khadija, nama yang digunakannya setelah masuk Islam. Ia seorang profesor keturunan Yahudi yang menemukan cahaya Islam setelah menyaksikan kematian seorang sutradara bernama Tony Richardson akibat penyakit AIDS. Khadija mengagumi Richardson sebagai sutradara panggung drama yang profesional, brilian dan diakui kalangan seniman internasional.
Kehidupan Richardson sebagai homoseks menularkannya penyakit AIDS yang mematikan. Dari situlah Khadija mulai memikirkan gaya hidup masyarakat Barat dan masyarakat Amerika terutama dalam masalah moralitas. Khadija pun mulai melirik ajaran Islam.
Khadija memulainya dengan mempelajari sejarah Islam. Sebagai seorang Yahudi, ia masih mengingat sejarah nenek moyangnya, Yahudi Spanyol yang hidup di tengah masyarakat Muslim dan terusir pada masa inkuisisi pada tahun 1942. Khadija mempelajari bagaimana kekhalifahan Turki Ustmani memperlakukan para pengungsi Yahudi dengan cara yang manusiawi pada masa pengusiran orang-orang Yahudi dari daratan Eropa.
“Allah membimbing saya dalam belajar dan saya belajar Islam dari banyak tokoh seperti Imam Siddiqi dari South Bay Islamic Association, Hussein Rahima dan kakak angkat saya, Maria Abidin, seorang muslim orang Amerika asli dan bekerja sebagai penulis di majalah SBIA, IQRA,” kisah Khadija mengawali ceritanya sebelum menjadi seorang muslim.
Saat melakukan riset tentang Islam, Khadija mewawancarai seorang pemilik toko daging halal di sebuah distrik di San Francisco. Di toko itu ia bertemu dengan seorang pembeli, perempuan berjilbab yang kemudian sangat mempengaruhinya dalam memahami ajaran Islam. Khadija terkesan dengan perilaku perempuan itu yang lembut dan ramah, apalagi perempuan berjilbab itu ternyata menguasai empat bahasa asing.
“Kecerdasannya, membuat saya merasa terbebas dari sikap arogan dan memberikan kesan mendalam di masa-masa awal saya mempelajari bagaimana Islam bisa mempengaruhi perilaku manusia,” ujar Khadija.
“Riset yang saya lakukan membuat saya tahu lebih banyak tentang Islam dari sekedar sekumpulan fakta, bahwa Islam adalah agama yang hidup. Saya belajar bagaimana kaum Muslimin memperlakukan diri mereka sendiri dengan penuh martabat dan kebaikan sehingga bisa mengangkat mereka dari kekerasan dan perbudakan di Amerika …”
“Saya belajar bahwa lelaki dan perempuan Muslim bisa saling mendukung keberadaan masing-masing, tanpa harus merusak keduanya secara verbal maupun fisik. Saya juga belajar bahwa busana yang pantas menunjukkan semangat spiritualitas dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia,” papar Khadija.
Kondisi itu sangat berbeda dengan apa yang dialami Khadija selama ini, sebagai perempuan yang hidup di tengah budaya masyarakat Amerika. Seperti perempuan Amerika pada umumnya, ia ibarat hidup di tengah perbudakan seksual. Sejak usia dini, Khadija belajar bahwa masyarakat AS pada umumnya menilai manusia semata-mata dari penampilan luarnya saja sehingga banyak remaja, baik perempuan maupun laki-laki yang putus asa karena merasa tidak diterima oleh teman sebayanya.
Setelah mengetahui lebih banyak tentang Islam dan bergaul dengan beberapa muslim Amerika, Khadija makin mencintai dan menghormati Islam. “Saya mendukung dan mengagumi Islam karena Islam memberikan hak yang sama dalam masalah pendidikan untuk laki-laki dan perempuan, menghormati hak laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan ajaran tentang cara berbusana yang pantas serta aturan Islam tentang perkawinan,” tukas Khadija.
“Islam mengajarkan untuk menghargadi diri kita sendiri sebagai makhluk ciptaanNya yang dianugerahi kemampuan untuk bertanggung jawab dalam hubungan kita dengan orang lain. Lewat salat dan zakat, serta komitmen keimanan dan pendidikan, jika kita mengikuti jalan Islam, kita memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anak yang akan terbebas dari ancaman kekerasan dan eksploitasi,” sambungnya.
Dalam perjalanannya memeluk Islam, Khadija aktif di organisasi AMILA (American Muslims Intent on Learning and Activism) dan ikut mengelola situs organisasi itu. Khadija dengan jujur mengakui bahwa komunitas Muslim adalah komunitas yang mengagumkan. “Islam memberi petunjuk pada kita agar terhindar dari api neraka,” kata Khadija.
Khadija pun bertekad bulat untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. “Sang Pencipta dikenal dengan banyak nama. Rahmat-Nya kita rasakan dan kehadiran-Nya dimanifestasikan dengan cinta, toleransi dan kasih sayang yang hadir di tengah kehidupan masyarakat,” tandas Khadija. (ln/oi)

kutipan diambil dari http://bancakan.wordpress.com/2011/01/
mimbar ummat .

READ MORE -

Alhamdulillah…Satu Lagi Gedung Megah di Inggris Beralih Fungsi Jadi Masjid


REPUBLIKA.CO.ID, BLACKBURN–Sebuah kubah baru telah ditambahkan ke sebuah bangunan megah yang sebelumnya difungsikan sebagai panti sosial. Ini adalah gedung ke sekian yang telah beralih fungsi menjadi masjid. Kubah tembaga yang dipasang di atapnya merupakan sumbangan sebuah masjid di Audley Range, Blackburn.
Bangunan yang kemudian diberi nama Masjid Sholihin ini tampak menunjol. Bangunan di Didsbury Street ini hanya beberapa jengkal dari bundaran yang menjadi ikon kota itu.
Sebelumnya, bangunan panti sosial ini telah lama menganggur. Sebuah proyek penggalangan dana yang dilakukan untuk pengambilalihan. “Ini adalah proyek panjang, dan kami melakukannya tahap demi tahap. Tahap selanjutnya, tergantung pada sumber pendanaan, adalah untuk meningkatkan sisi yang menghadap Burnley Road,” ujar seorang jamaah.
Sebelumnya, sisi bangunan itu terdiri dari jendela kaca. Namun setelah pengambilalihan, masjid menjadi sasaran vandalisme. Akhirnya, daripada harus selalu repot mengganti kaca yang pecah, pengurus masjid memutuskan untuk menutupnya dengan tembok. “Mudah-mudahan kemudian akan terlihat rapi, karena telah menjadi sedikit merusak pemandangan.”
Ketua Dewan Masjid, Yusuf Jan-Virmani mengatakan ada juga masalah drainase di lokasi.”Itu berantakan, tapi kami telah berhasil membarui itu,” ujarnya.
Salah satu sisi halaman masjid dimanfaatkan untuk sarana aktivitas sosial warga. “Banyak warga yang memanfaatkannya untuk bermain bola atau latihan bulutangkis,” ujarnya.
READ MORE -

Kisah Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran (II)


...
Suatu hari, lewatlah rombongan pedangan dari Kalb. Kukatakan pada mereka : "Bawalah aku bersama kalian ke negeri Arab dan akan kuberikan sapi dan kambingku ini pada kalian. Mereka berkata : "Iya." Maka kuberikan sapi dan kambingku sebagai imbalan agar mereka membawaku ke negeri Arab. Tatkala sampai di lembah Al-Quro  mereka menzholimiku dengan menjualku sebagai budak kepada seorang Yahudi. Maka aku pun tinggal di tempat orang Yahudi tersebut dan kulihat pohon kurma. Aku berharap semoga negeri ini adalah negeri yang disifatkan si Fulan kepadaku.

Ketika aku berada di sisi orang Yahudi tersebut, datanglan anak pamannya dari Bani Quraidzah di Madinah. Ia membeliku darinya. Kemudian ia membawaku ke Madinah. Begitu tiba di Madinah, demi Allah, tidaklah yang kulihat kecuali seperti apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Maka akupun tinggal bersamanya di Madinah.

Rasulullah shalallahu'alaihi wasalam telah diutus, beliau tinggal di Makkah beberapa lama. Aku tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukkan sebagai seorang budak. Kemudian Rasulullah hijrah ke Madinah. Tatkala aku berada di puncak pohon kurma majikanku, sementara majikanku duduk di bawah pohon tersebut. Tiba-tiba datanglah keponakannya dan berkata : "Wahai Fulan, Celakah BaniQoilah (suku Aus dan Khazraj). Demi Allah , mereka kini sedang berkumpul di Quba' untuk menyambut kedatangan seorang yang datang dari Makkah. Mereka Yakini bahwa orang tersebut adalah nabi."

Tatkala kudengar pembicaraannya, aku gemetar hingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Aku pun turun dari pohon kurma, dan bertanya pada keponakan majikanku : "Apa yang tadi engkau katakan, apa yang tadi engkau katakan?."  Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan yang keras. Kemudian berkata : "Apa urusanmu menanyakan hal ini, Kembalilah bekerja." Kukatakan : "Tidak ada, kecuali hanya mencari kejelasan ucapannya."  Padahal sebenarnya telah kumiliki keterangan akan diutusnya seorang nabi. Di sore hari kuambil sejumlah bekal kemudian aku pergi menemui Rasulullah shalallahu'alaihi wasalam di Quba'. Maka aku menemui beliau dan kukatakan padanya : "Sesungguhnya telah kudengar bahwa engaku adalah seorang yang sholih, engkau memiliki sahabat yang dianggap asing dan miskin. Kubawakan sedikit sedekah yang menurutku kalian lebih berhak menerimanya daripada orang lain." Kudekatkan sedekahku ini kepada beliau shalallahu'alaihi wasalam. Maka Rasulullah shalallahu'alaihi wasalam berkata kepada sahabatnya : "Makanlah, sedangkan beliau tidak menyentuh dan tidak memakan sedekah tersebut." Aku berkata dalam diriku : "Ini tanda pertama dari kenabiannya." Aku pun pergi meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Dan Rasulullah pindah ke Madinah. Kemudian kudatangi beliau lagi dan berkata : "Sesungguhnya aku melihatmu tidak makan sedekah, sekarang kubawakan untukmu hadiah." Rasulullah pun makan hadiah tersebut dan memerintahkan sahabatnya untuk makan bersamanya. Aku berkata dalam diriku : "Ini tanda kedua dari kenabiannya."

Kemudian aku menemui beliau ketika beliau berada di kuburan Baqi' Al-Gharqad sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabatnya. Beliau mengenakan dua lembar kain. Ketika itu beliau sedang duduk di tengah sahabatnya. Aku pun memberikan salam kepadanya. Kemudian aku berputar untuk melihat punggung beliau. Mungkinkah aku dapat melihat cincin kenabian yang di sifatkan si Fulan padaku?. Tatkala Rasulullah melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang ciri kenabian tersebut. Maka beliau pun melepaskan kain selendang dari punggungnya, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku pun yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku tersungkur di hadapan beliau dan  memeluk beliau seraya menangis. Rasulullah berkata : "Geserlah kemari." Aku pun bergeser ke hadapan beliau dan kuceritakan kisahku pada Beliau shalallahu'alaihi wasalam sebagaimana kuceritakan kisahku ini padamu wahai Ibnu 'Abbas. Maka para sahabat pun ta'ajub kepada Rasulullah setelah mendengar perjalanan hidupku tersebut.

Pekerjaan sangat menyibukkan Salman sehingga menghalanginya mengikuti perang Badar dan Uhud. Suatu ketika Rasulullah shalallahu'alaihisalam berkata padaku : "Wahai Salman! mintalah pada majikanmu untuk bebas." Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang aku tanam untuknya dan 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabatnya : "Bantulah saudara kalian ini." Mereka  pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Diantara sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah bersabda : "Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku." Aku pun menanamnya dengan bantuan para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memberitahukan perihalku, Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka beliau berkata : "Yang jiwa Salman berada di TanganNya, tidak akan ada sebatang pohon pun yang mati."

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membawa emas sebesar telur ayam hasil rampasan perang. Lantas beliau bersabda : "Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?." Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau berkata : "Wahai Salman ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu!"

Aku berkata : "Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bagaimana status emas ini bagiku?." Beliau menjawab : "Ambil saja! Insya Allah, AllahSubhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya.’ Kemudian aku menimbang emas itu -dan yang jiwa Salman yang berada di TanganNya- berat emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus kuserahkan kepada majikanku, dan aku pun dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perang Khandaq dan sejak itu tidak ada satu peperangan pun yang tidak aku ikuti.

(HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabranl dalam al-Kabir(6/222); lbnu Sa’ad dalam ath-Thabagat, 4/75; al-Balhaqi dalam al-kubra, 10/323.)
READ MORE -

Kisah Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran (I)


Oleh : Abu Abdillah Aidil Fitriansyah

Berkata Imam Ahmad dalam musnadnya : "Telah berkata kepada kami Ya'qub bin Ibrahim, berkata pada kami Bapakku dari Ibnu Ishaq, berkata pada kami 'Ashim bin Umar bin Qotadah Al-Anshori dari Mahmud bin Labid dari Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallahu'anhuma,  sesungguhnya Salman Al-Farisy telah menceritakan dari lisannya kepadaku :

Dahulu aku adalah seorang pemuda persi dari keluarga Asbahan, warga suatu desa yang bernama "Jayyu". Bapakku adalah seorang Kepala Desa. Beliau menyayangiku melebihi sayangnya terhadap semua mahluk. Kecintaan beliau tersebut membuat beliau  mengurungku di rumahnya sebagaimana dipenjaranya seorang budak. Aku dilahirkan untuk membaktikan diri di lingkungan Majusi sehingga akupun menjadi penjaga Api yang Bapakku hidupkan dan tidak membiarkannya padam walaupun hanya sekejap.

Ayahku memiliki perkebunan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk dengan bangunan yang ia miliki. Beliau berkata padaku : "Wahai anakku sesunggunya hari ini aku sangat sibuk dengan bangunanku sehingga aku tidak dapat mengurus perkebunan, pergilah engkau kesana. Beliau menyuruhkan melakukan beberapa pekerjaan yang ia inginkan. Kemudian beliau berkata padaku : "Jangan sampai engkau tersasar, karena dirimu lebih berharga bagiku dibandingkan seluruh kebunku dan  engkau akan menyibukkanku dari seluruh urusanku."

Akupun keluar rumah menuju perkebunan ayahku. Tatkala aku melewati gereja orang-orang Nashrani. Kudengar suara mereka sedang melakukan ibadah. Akupun tidak mengetahui mengapa Bapakku mengharuskan aku hanya tinggal dirumah saja. Maka tatkala kulewati gereja mereka dan terdengar olehku suara mereka, akupun masuk ke dalam gereja untuk melihat apa yang mereka lakukan. Saat kulihat mereka, sungguh sangat menakjubkanku ibadah mereka dan akupun ingin melakukan ibadah tersebut.

Aku berkata : "Demi Allah, Agama ini lebih baik dari agama yang selama ini kami yakini." Demi Allah, aku tidak tinggalkan mereka kecuali setelah matahari terbenam dan akupun tidak jadi mendatangi perkebunan ayakku. Kukatakan pada mereka : "Dimanakah sumber agama ini?" mereka menjawab : "Di Syam". Aku kembali kepada Bapakku, padahal beliau telah menyuruh seseorang untuk mencariku sedangkan aku tidak mengerjakan apa yang ditugaskan bapakku. Tatkala kudatangi Bapakku, Beliau berkata : "Wahai anakku, dimanakah Engkau, bukankah aku telah berpesan padamu untuk melakukan apa yang kuperintahkan?"

Aku berkata : "Wahai Bapakku, aku melintasi manusia yang melakukan ibadah di gereja,  dan sangat menakjubkanku agama mereka. Demi Allah, Aku senantiasa  bersama mereka hingga matahari terbenam." Berkata Bapakku : "Wahai anakku tidak ada  sedikitpun kebaikan pada agama tersebut, Agamamu dan Agama nenek moyangmu lebih baik dari agama mereka." 
Aku membantah: "Demi Allah, sekali-kali tidak, Agama mereka lebih baik dari agama kita." Maka Bapakku khawatir akan diriku dan beliau merantai kakiku serta mengurungku di dalam rumahnya.

Suatu hari ada sekelompok orang Nashrani yang diutus kepadaku. Kukatakan pada mereka : "Jika ada rombongan yang terdiri pedagang Nashrani, kabarilah aku." Selanjutnya kukatakan : "Jika para pedang tersebut telah menyelesaikan hajat mereka dan akan kembali ke negerinya, Izinkan aku ikut bersama mereka." Tatkala para pedang tersebut ingin kembali ke negeri, mereka pun mengabariku. Kulepaskan ikatan besi di kakiku, akupun keluar dan pergi bersama rombongan pedagang nashrani hingga tiba di Syam (Syiria).

Setibanya aku di Syam, kukatakan : "Siapa orang yang ahli agama disini?" Mereka katakan : "Uskup (Pendeta) yang tinggal di gereja." Akupun menemui pendeta tersebut dan kukatakan padanya : "Sesungguhnya aku sangat mencintai agama ini dan aku ingin tinggal bersamamu hingga aku dapat membantumu di gerejamu. Akupun dapat belajar darimu dan beribadah denganmu." Pendeta itu menjawab : "Masuklah." Maka akupun tinggal bersamanya.

Ternyata pendeta tersebut adalah pendeta yang jahat. Ia perintahkan dan anjurkan manusia untuk bersedekah dan ketika harta tersebut telah terkumpul ia simpan harta tersebut untuk dirinya sendiri hingga mencapai 7 peti emas dan perak tanpa sedikitpun ia infakkan untuk orang miskin. Aku sangat membenci perbuatan pendeta tersebut. Tatkala pendeta tersebut meninggal, orang-orang nashrani berkumpul untuk menguburnya. Maka kukatakan pada mereka : "Sesungguhnya pendeta ini adalah pendeta yang jahat, ia perintahkan dan anjurkan kalian untuk bersedekah. Namun, setelah harta tersebut terkumpul, ia simpan harta tersebut untuk dirinya sendiri dan tidak diinfakkan sedikitpun untuk orang miskin." Mereka berkata :"Apa buktinya?" Kukatakan : "Kutunjukkan pada kalian simpanannya." Mereka berkata :"Tunjukkan pada kami." Maka kutunjukkan simpanan pendeta tersebut, kemudian orang-orang pun mengeluarkan 7 peti emas dan perak. Tatkala mereka saksikan, mereka berkata : "Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburkannya."  Maka mereka menyalip pendeta tersebut dan melempari jasadnya dengan batu. 

Merekapun mengangkat orang lain sebagai penganti pendeta tersebut. Tidak pernah kulihat seorang sholat lima waktu yang lebih baik dari orang ini. Ia sangat zuhud dunia, mencintai akhirat dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya yang besarnya cinta ini tidak pernah kuberikan  selain padanya. Aku pun tinggal bersamanya. Tatkala kematian mendatanginya, kukatakan padanya : "Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu, aku sangat mencintaimu yang besarnya cinta ini tidak pernah kuberikan selain padamu. Dan telah menghampirimu apa yang telah engkau lihat dari ketetapan Allah. Kepada siapakah engkau wasiatkan aku? Dan apa yang engkau perintahkan padaku?." Ia berkata : "Wahai anakku! Demi Allah, saat ini aku tidak mengetahui orang yang berkeyakinan seperti keyakinanku. Orang-orang yang kukenal telah mati. Manusia mengganti ajaran yang benar dan mereka tinggalkan sebagian besar ajaran tersebut. Kecuali seseorang yang tinggal di "Maushil" (kota di Irak), yaitu si Fulan. Ia berkeyakinan seperti keyakinanku ini, maka kebenaran ada bersamanya."

Maka tatkala pendeta tersebut meninggal, akupun menemui orangMaushil tersebut dan kukatakan padanya : "Wahai Fulan sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkanku agar aku ikut bersamamu. Ia kabarkan bahwa engkau berkeyakinan seperti keyakinannya." Ia katakan : "Tinggalkan bersamaku." Aku pun hidup bersamanya. Kudapati ia adalah paling baiknya manusia sebagaimana yang diterangkan si Fulan padaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Tatkala kematian mendatanginya, kukatakan padanya : "Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan padaku untuk menemui dan ikut bersamamu, kini takdir Allah telah berlaku atasmu sebagaimana telah engkau ketahui, kepada siapakah engkau wasiatkan aku? Dan apa yang engaku perintakah?. Ia berkata : "Wahai anakku, demi Allah, tak ada seorang pun yang berkeyakinan sepertiku kecuali seseorang yang tinggal di Nashibiin (Kota Aljazair), Yaitu si Fulan, maka kebenaran ada  bersamanya."

Setelah wafatnya beliau, aku menemui seseorang yang tinggal di Nashibiin itu. Kuceritakan padanya dan apa yang diperintahkan si Fulan padaku. Orang itu berkata : "tinggallah bersamaku." Aku pun tinggal bersamanya dan  kudapati ia seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku pun tinggal bersama seseorang yang sangat baik (agamanya). Demi Allah ketika Kematian hampir datang menjemputnya kukatakan padanya : "Wahai Fulan, Ketika si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan kemudian Si Fulan mewasiatkan aku padamu?, sepeninggalmu nanti, kepada siapakah engkau wasiatkan aku?  Dan apa yang engkau perintahkan?." Ia berkata : "Wahai anakku, Demi Allah tidak ada yang tersisa yang aku perintahkan engku untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di 'Ammuryyah (Kota di Romawi). Sesungguhnya ia berkeyakinan seperti keyakinan kita. Jika engkau suka datangilah, karena ia berkeyakinan seperti keyakinanku."

Setelah orang tersebut meninggal kudatangi seseorang yang tinggal di'Ammuryyah, kuceritakan padanya keadaanku. Ia pun berkata : "Tinggallah bersamaku." Ditempat orang ini, aku bekerja hingga kumiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah berlaku atasnya. Ketika kematian menghampirinya, kukatakan padanya : "Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama Fulan, kemudian ia wasiatkan aku untuk menemui si Fulan, kemudian si Fulan mewasiatkan aku untuk menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkanku untuk menemuimu. Sekarang kepada siapakah engkau wasiatkan aku? Dan apa yang engkau perintahkan padaku?." Orang itu berkata : "Wahai anakku, demi Allah, tidak kuketahui seorang pun berkeyakinan seperti keyakinan kita yang dapat kuperintahkan dirimu untuk menemuinya. Akan tetapi hampir tiba saatnya muncul seorang nabi, yang diutus membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi tersebut muncul di negeri Arab. Dia akan hijrah menuju negeri antara dua perbukitan yang ditumbuhi pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda kenabian yang tidak dapat disembunyikan. Dia makan dari makanan hadiah namun tidak makan dari pemberian sedekah, diantara dua bahunya terdapat tandan cincin kenabian. Jika engkau dapat menuju negeri tersebut, maka pergilah!." Kemudian orang itu meninggal dan aku tetap tinggal di 'Ammuryyah sesuai dengan kehendak Allah.

 . . . .
READ MORE -